Showing posts with label linguistik. Show all posts
Showing posts with label linguistik. Show all posts

Thursday, January 26, 2012

Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)


Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)
Oleh: Deny A. Kwary

I. Pendahuluan

Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Program studi Ilmu Bahasa mulai jenjang S1 sampai S3, bahkan sampai post-doctoral program telah banyak ditawarkan di universitas terkemuka, seperti  University of California in Los Angeles (UCLA), Harvard University, Massachusett Institute of Technology (MIT), University of Edinburgh, dan Oxford University. Di Indonesia, paling tidak ada dua universitas yang membuka program S1 sampai S3 untuk ilmu bahasa, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Atma Jaya.

II. Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa

Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern.
2. 1 Tata Bahasa Tradisional
Pada zaman Yunani para filsuf meneliti apa yang dimaksud dengan bahasa dan apa hakikat bahasa. Para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa adalah sistem tanda. Dikatakan bahwa manusia hidup dalam tanda-tanda yang mencakup segala segi kehidupan manusia, misalnya bangunan, kedokteran, kesehatan, geografi, dan sebagainya. Tetapi mengenai hakikat bahasa – apakah bahasa mirip realitas atau tidak – mereka belum sepakat. Dua filsuf besar yang pemikirannya terus berpengaruh sampai saat ini adalah Plato dan Aristoteles.
Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas; sedangkan Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism). Pandangan Plato bahwa bahasa mirip dengan realitas atau non-arbitrer diikuti oleh kaum naturalis; pandangan Aristoteles bahwa bahasa tidak mirip dengan realitas atau arbitrer diikuti oleh kaum konvensionalis. Perbedaan pendapat ini juga merambah ke masalah keteraturan (regular) atau ketidakteraturan (irregular) dalam bahasa. Kelompok penganut pendapat adanya keteraturan bahasa adalah kaum analogis yang pandangannya tidak berbeda dengan kaum naturalis; sedangkan kaum anomalis yang berpendapat adanya ketidakteraturan dalam bahasa mewarisi pandangan kaum konvensionalis. Pandangan kaum anomalis mempengaruhi pengikut aliran Stoic. Kaum Stoic lebih tertarik pada masalah asal mula bahasa secara filosofis. Mereka membedakan adanya empat jenis kelas kata, yakni nomina, verba, konjungsi dan artikel.
Pada awal abad 3 SM studi bahasa dikembangkan di kota Alexandria yang merupakan koloni Yunani. Di kota itu dibangun perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan. Para ahli dari kota itu yang disebut kaum Alexandrian meneruskan pekerjaan kaum Stoic, walaupun mereka sebenarnya termasuk kaum analogis. Sebagai kaum analogis mereka mencari keteraturan dalam bahasa dan berhasil membangun pola infleksi bahasa Yunani. Apa yang dewasa ini disebut "tata bahasa tradisional" atau " tata bahasa Yunani" , penamaan itu tidak lain didasarkan pada hasil karya kaum Alexandrian ini.
Salah seorang ahli bahasa bemama Dionysius Thrax (akhir abad 2 SM) merupakan orang pertama yang berhasil membuat aturan tata bahasa secara sistematis serta menambahkan kelas kata adverbia, partisipel, pronomina dan preposisi terhadap empat kelas kata yang sudah dibuat oleh kaum Stoic. Di samping itu sarjana ini juga berhasil mengklasifikasikan kata-kata bahasa Yunani menurut kasus, jender, jumlah, kala, diatesis (voice) dan modus.
Pengaruh tata bahasa Yunani sampai ke kerajaan Romawi. Para ahli tata bahasa Latin mengadopsi tata bahasa Yunani dalam meneliti bahasa Latin dan hanya melakukan sedikit modifikasi, karena kedua bahasa itu mirip. Tata bahasa Latin dibuat atas dasar model tata bahasa Dionysius Thrax. Dua ahli bahasa lainnya, Donatus (tahun 400 M) dan Priscian (tahun 500 M) juga membuat buku tata bahasa klasik dari bahasa Latin yang berpengaruh sampai ke abad pertengahan.
Selama abad 13-15 bahasa Latin memegang peranan penting dalam dunia pendidikan di samping dalam agama Kristen. Pada masa itu gramatika tidak lain adalah teori tentang kelas kata. Pada masa Renaisans bahasa Latin menjadi sarana untuk memahami kesusastraan dan mengarang. Tahun 1513 Erasmus mengarang tata bahasa Latin atas dasar tata bahasa yang disusun oleh Donatus.
Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa sebenarnya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia (abad 7 M), tata bahasa Eslandia (abad 12), dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa adalah memberi petunjuk tentang pemakaian "bahasa yang baik" , yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini adalah untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang dapat "merusak" bahasa seperti kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya.
Tradisi tata bahasa Yunani-Latin berpengaruh ke bahasa-bahasa Eropa lainnya. Tata bahasa Dionysius Thrax pada abad 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para ahli tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.
Selain di Eropa dan Asia Barat, penelitian bahasa di Asia Selatan yang perlu diketahui adalah di India dengan ahli gramatikanya yang bemama Panini (abad 4 SM). Tata bahasa Sanskrit yang disusun ahli ini memiliki kelebihan di bidang fonetik. Keunggulan ini antara lain karena adanya keharusan untuk melafalkan dengan benar dan tepat doa dan nyanyian dalam kitab suci Weda.
Sampai menjelang zaman Renaisans, bahasa yang diteliti adalah bahasa Yunani, dan Latin. Bahasa Latin mempunyai peran penting pada masa itu karena digunakan sebagai sarana dalam dunia pendidikan, administrasi dan diplomasi internasional di Eropa Barat. Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark.

2. 2 Linguistik Modern
2. 2. 1 Linguistik Abad 19
Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.
Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.
Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan sampai dewasa ini antara lain:
1.      Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.
2.      Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.
3.      Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.
4.      Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.
5.      Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.
6.      Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.
7.      Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.
8.      Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.
9.      Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.
10.  Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.
11.  Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.
12.  Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan
13.  Bahasa-bahasa lain seperti bahasa di Papua, Australia dan Kadai.
Ciri linguistik abad 19 sebagai berikut:
1)          Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa, baik bahasa-bahasa Roman maupun nonRoman.
2)          Bidang utama penelitian adalah linguistik historis komparatif. Yang diteliti adalah hubungan kekerabatan dari bahasa-bahasa di Eropa untuk mengetahui bahasa-bahasa mana yang berasal dari induk yang sama. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan bunyi kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan bunyi apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.
3)          Pendekatan bersifat atomistis. Unsur bahasa yang diteliti tidak dihubungkan dengan unsur lainnya, misalnya penelitian tentang kata tidak dihubungkan dengan frase atau kalimat.

2. 2. 2 Linguistik Abad 20
Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia). Ciri-cirinya:
1)      Penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia.
2)      Pendekatan dalam meneliti bersifat strukturalistis, pada akhir abad 20 penelitian yang bersifat fungsionalis juga cukup menonjol.
3)      Tata bahasa merupakan bagian ilmu dengan pembidangan yang semakin rumit. Secara garis besar dapat dibedakan atas mikrolinguistik, makro linguistik, dan sejarah linguistik.
4)      Penelitian teoretis sangat berkembang.
5)      Otonomi ilmiah makin menonjol, tetapi penelitian antardisiplin juga berkembang.
6)      Prinsip dalam meneliti adalah deskripsi dan sinkronis
Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.
Beberapa pokok pemikiran Saussure:
(1)   Bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.
(2)   Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.
(3)   Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.
(4)   Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.
(5)   Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.
(6)   Bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur.
(7)   Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).
(8)   Dibedakan antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.
Gerakan strukturalisme dari Eropa ini berpengaruh sampai ke benua Amerika. Studi bahasa di Amerika pada abad 19 dipengaruhi oleh hasil kerja akademis para ahli Eropa dengan nama deskriptivisme. Para ahli linguistik Amerika mempelajari bahasa-bahasa suku Indian secara deskriptif dengan cara menguraikan struktur bahasa. Orang Amerika banyak yang menaruh perhatian pada masalah bahasa. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga (1801-1809), menganjurkan agar supaya para ahli linguistik Amerika mulai meneliti bahasa-bahasa orang Indian. Seorang ahli linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867).
Tokoh linguistik lain yang juga ahli antropologi adalah Franz Boas (1858-1942). Sarjana ini mendapat pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.
Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga seorang ahli antropologi dinilai menghasilkan karya-karya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat adalah mengenai klasifikasi bahasa-bahasa Indian.
Pemikiran Sapir berpengaruh pada pengikutnya, L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya tentang fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir berpendapat fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.
Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum memiliki aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu.
Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.
            Murid Sapir lainnya, Zellig Harris, mengaplikasikan metode strukturalis ke dalam analisis segmen bahasa. Sarjana ini mencoba menghubungkan struktur morfologis, sintaktis, dan wacana dengan cara yang sama dengan yang dilakukan terhadap analisis fonologis. Prosedur penelitiannya dipaparkan dalam bukunya Methods in Structural Linguistics (1951).
            Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.

III. Paradigma

Kata paradigma diperkenalkan oleh Thomas Khun pada sekitar abad 15. Paradigma adalah prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa sebagai model untuk memecahkan masalah ilmiah dalam kalangan tertentu. Paradigma dapat dikatakan sebagai norma ilmiah. Contoh paradigma yang mulai tumbuh sejak zaman Yunani tetapi pengaruhnya tetap terasa sampai zaman modern ini adalah paradigma Plato dan paradigma Aristoteles. Paradigma Plato berintikan pendapat Plato bahwa bahasa adalah physei atau mirip dengan realitas, disebut juga non-arbitrer atau ikonis. Paradigma Aristoteles berintikan bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip dengan realitas, kecuali onomatope, disebut arbitrer atau non-ikonis. Kedua paradigma ini saling bertentangan, tetapi dipakai oleh peneliti dalam memecahkan masalah bahasa, misalnya tentang hakikat tanda bahasa.
Pada masa tertentu paradigma Plato banyak digunakan ahli bahasa untuk memecahkan masalah linguistik. Penganut paradigma Plato ini disebut kaum naturalis. Mereka menolak gagasan kearbitreran. Pada masa tertentu lainnya paradigma Aristoteles digunakan mengatasi masalah linguistik. Penganut paradigma Aristoteles disebut kaum konvensionalis. Mereka menerima adanya kearbiteran antara bahasa dengan realitas.
Pertentangan antara kedua paradigma ini terus berlangsung sampai abad 20. Di bidang linguistik dan semiotika dikenal tokoh Ferdinand de Saussure sebagai penganut paradigma .Aristoteles dan Charles S. Peirce sebagai penganut paradigma Plato. Mulai dari awal abad 19 sampai tahun 1960-an paradigma Aristoteles yang diikuti Saussure yang berpendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer digunakan dalam memecahkan masalah-masalah linguistik. Tercatat beberapa nama ahli linguistik seperti Bloomfield dan Chomsky yang dalam pemikirannya menunjukkan pengaruh Saussure dan paradigma Aristoteles. Menjelang pertengahan tahun 60-an dominasi paradigma Aristoteles mulai digoyahkan oleh paradigma Plato melalui artikel R. Jakobson "Quest for the Essence of Language" (1967) yang diilhami oleh Peirce. Beberapa nama ahli linguistik seperti T. Givon, J. Haiman, dan W. Croft tercatat sebagai penganut paradigma Plato.

IV. Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa

            Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.
4. 1 Fonetik
            Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.
            Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, jika seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia dapat memberikan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional adalah Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun beliau berkunjung, beliau selalu memberikan khotbah dengan menggunakan bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa beliau memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup belajar fonetik saja untuk mampu mengucapkan bunyi ratusan bahasa dengan tepat.

4. 2 Fonologi
            Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

4. 3 Morfologi
            Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -­en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -­en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh ahli farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja langsung menggunakan obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya.

4. 4 Sintaksis
            Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

4. 5 Semantik
            Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.
4. 6 Pengajaran Bahasa
Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.
Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik. Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.
            Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya. Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.

4. 7 Leksikografi
            Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.
Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.
Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford? Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti. Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada dipasaran.

V. Penutup

Penelitian bahasa sudah dimulai sejak abad ke 6 SM, bahkan perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan sudah dibangun sejak awal abad 3 SM di kota Alexandria. Kamus bahasa Inggris, Dictionary of the English Language, yang terdiri atas dua volume, pertama kali diterbitkan pada tahun 1755; dan pada tahun 1884 telah diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume. Antara 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya.
Salah satu buku awal yang menjelaskan mengenai ilmu bahasa adalah buku An Introduction to Linguistic Science yang ditulis oleh Bloomfield pada tahun 1914. Jurnal ilmiah internasional ilmu bahasa, yang berjudul International Journal of American Linguistics, pertama kali diterbitkan pada tahun 1917.
Ilmu bahasa terus berkembang dan semakin memainkan peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan semakin majunya program pascasarjana bidang linguistik di berbagai universitas terkemuka (UCLA, MIT, Oxford, dll). Buku-buku karya ahli bahasa pun semakin mendapat perhatian. Salah satu buktinya adalah buku The Comprehensive Grammar of the English Langauge, yang terdiri atas 1778 halaman, yang acara peluncurannya di buka oleh Margareth Thatcher, pada tahun 1985. Respon yang luar biasa terhadap buku tersebut membuatnya dicetak sebanyak tiga kali dalam tahun yang sama. Buku tata bahasa yang terbaru, The Cambridge Grammar of the English Language, tahun 2002, yang terdiri atas 1842 halaman, ditulis oleh para ahli bahasa yang tergabung dalam tim peneliti internasional dari lima negara.


Pustaka Acuan
Robins, R.H. 1990. A Short History of Linguistics. London: Longman.
Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (6th Edition). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.
Hornby, A.S. 1995. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (5th edition). Oxford: Oxford University Press.
Matthews, Peter. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.





Read More..

Sunday, January 15, 2012

Membumikan Bahasa Arab


PENDAHULUAN

            Istilah pembumian dalam dunia akademis memang belum dikenal luas, kecuali merujuk pada istilah yang dipopulerkan oleh beberapa tokoh muslim, seperti Quraish Shihab melalui bukunya Membumikan Al Qur’an dan Syafi’i Ma’arif dengan bukunya Membumikan Islam berdasarkan dua buku tersebut dapat difahami bahwa istilah ini tiada lain adalah “menyosialisasikan”.
Jika istilah pembumian sebelumnya digunan untuk al Qur’an dan Islam, maka dalam tulisan ini kata tersebut digunakan dalam nuansa yang berbeda yaitu bahasa Arab. Namun dalam konteks yang sama yaitu menyosialisasikan bahasa Arab khususnya di Indonesia. Indonesia merupakan sebuah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam sudah barang tentu tidak asing dengan bahasa Arab paling tidak menggunakannya hanya ketika melaksanakan ibadah shalat dan ketika berdoa. Bahasa Arab diajarkan mulai Sekolah Dasar yang dalam hal ini di Madrasah Ibtidaiyah sampai ke Perguruan Tinggi seperti IAIN, STAIN, UIN dan yang lainnya. Selain bahasa Arab, bahasa asing yang sangat popular di Indonesia adalah bahasa Inggris. Dalam perkembangannya bahasa Inggris justru menjadi lebih populer dibandingkan bahasa Arab.
Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing (foreign language) di Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-2 setelah bahasa Inggris dilihat dari pengguna, akan tetapi sebenarnya bahasa Arab justru jauh lebih dahulu dikenal orang Indonesia karena bahasa Arab masuk ke nusantara bersamaan dengan masuknya agama Islam di wilayah tersebut. Ditinjau dari sejarah, bahasa Arab merambah bumi pertiwi bersamaan dengan masuknya agama Islam. Para pedagang dari Gujarat memperkenalkan ajaran Islam pada saat itu pula bahasa Arab diajarkan kendatipun baru sebagai bahasa ibadah. Seterusnya bahasa Arab diajarkan untuk memahami al Qur’an dan Hadits, baru pada akhir abad ke-19 bahasa Arab mengalami tranformasi besar-besaran dalam metode pembelajaran terutama dari aspek tujuannya, jika sebelumnya pembelajaran diarahkan agar siswa dapat memahami teks-teks berbahasa Arab “pasive understanding", paradigma pembelajaran bahasa Arab sejak akhir dekade 90-an sampai saat ini menyatakan bahwa "bahasa adalah ucapan", ditunjukkan dengan materi pelajaran yang setidaknya bersumber dari buku-buku pelajaran ala buku An-Nasyi'in, dengan sarana yang berupa asrama yang memungkinkan untuk mempraktekkan/berlatih manggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. bahasa Arab mulai dituturkan di antara murid-murid pondok pesantren dan siswa-siswa yang tinggal di asram-asrama sekolah.
Dari aspek metode pambelajaran, sudah banyak yang menggunakan communicative approach yang menekankan pada kemampuan berbahasa secara komunikatif dan tidak terlalu banyak memperhatikan qawaid sebagai salah satu komponen dalam linguistik Arab yang sebelum merupakan paradigma pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Saat ini pembelajaran qawaid hanya merupakan salah satu metode dari metode-metode dalam pembelajaran bahasa Arab.
Memang harus diakui bahwa dari aspek metodologis, pembelajaran bahasa Arab di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan denga bahasa asing lainnya khususnya bahasa Inggris yang cenderung dari hari ke hari mengalami pembaharuan di berbagai aspek yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa tersebut. Khususnya di Indonesia baru pada akhir dekade 90-an pembelajaran bahasa Arab mulai mengalami transformasi sampai saat ini terus berkembang, banyak buku-buku baru yang bermunculan yang membahas/mengkaji bahasa Arab dari aspek pembelajarannya.
Sementara jika ditinjau dari popularitas bahasa Arab di tingkat dunia, Ghazzawi mengatakan bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia. Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara. sedangkan menurut menurut Khalid dalam Lubis dalam Wahyuningsih bahasa Arab sebagai salah satu bahasa utama di dunia (major word language) saat ini menjadi penuturan lebih dari satu milyar umat Islam di seluruh dunia yang hampir 22% dari jumlah penduduk dunia ini.
Dari data di atas dapat difahami bahwa penutur asli bahasa Arab mencapai lebih dari dua ratus juta umat manusia, sedangkan secara keseluruhan penutur bahasa Arab dari umat Islam sudah mencapai lebih dari satu milyar. Sebagai bahasa regional, bahasa Arab digunakan di Afrika Utara, jazirah Arab, Siria, Lebanon, Yordania, dan Irak. Selain di wilayah tersebut bahasa Arab juga digunakan oleh kaum Arab di Israel, serta di beberapa wilayah sekitar gurun sahara di Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan, serta di (bekas wilayah) Uni Soviet wilayah Asia Tengah.
Bahasa ini menjadi bahasa resmi di beberapa Negara di Asia khususnya kawasan timur tengah menjadi bahasa pertama, sudah merupakan suatu kewajaran karena bahasa tersebut merupakan bahasa ibu di Negara-negara tersebut.
Sebut saja seperti Arab Saudi, Mesir, Syiria, Abu Dabi dan lain-lain. Ada sebuah Negara yang mampu menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama yaitu Sudan, sebelumnya Negara tersebut tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, namun bangsa tersebut mampu menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama (bahasa resmi) yang digunakan oleh masyarakat Negara tersebut.
Di Indonesia sebenarnya bahasa Arab memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi bahasa asing yang popular dan paling banyak dituturkan, namun saat ini harus diakui bahwa bahasa Inggris yang nota bene-nya sama dengan bahasa Arab, sama-sama bahasa asing, namun bahasa Inggris mampu menggeser popularitas bahasa Arab sebagai bahasa asing di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan bahasa Inggris menjadi sangat popular; di antaranya adalah globalisasion era, yang digawangi oleh sector academic field, teknologi dan ekonomi.Bahasa Inggris banyak digunakan dalam dunia akademik, teknologi dan ekonomi. Tidak ada satupun negara yang luput dari tiga sektor kehidupan tersebut. Bukan tidak ada harapan bagi bahasa Arab untuk dapat menandingi kepopuleran bahasa Inggris. Satu hal yang perlu difahami secara lebih dalam dan bijak, bahwa secara naluri bangsa Indonesia sangat membutuhkan bahasa Arab. Dalam konteks dasar (basic contect), seluruh umat Islam yang merupakan umat mayoritas beribadah dengan menggunakan media bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam konteks pemahaman (understanding contect), bahasa Arab merupakan piranti dalam memahami agama Islam secara holistik sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan, dan dapat menjadi bangsa yang bermartabat.
Sebelum dekade 90-an bahasa Arab dikalangan siswa dianggap sebagai ”momok”, yaitu sesuatu yang menakutkan. Hal ini dapat dimengerti karena kesan mempelajari bahasa Arab adalah amat sulit, mulai dari tulisan yang sangat berbeda dengan bahasa alpabet bahasa Indonesia. Sementara tulisan bahasa Inggris sama dengan alpabet Indonesia, belum lagi berkaitan dengan fonem yang banyak tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Hal itu tidak begitu signifikan berpengaruhnya, jika dibanding dengan keinginan siswa mempelajari bahasa Inggris karena merupakan bahasa teknologi dan merupakan bahasa asing yang selalu menjadi pra-syarat dalam mendapatkan pekerjaan atau peluang kerja.
Pandangan yang bersifat materialistis sebenarnya yang menjadikan bahasa Arab sebagai momok untuk dipelajari. Tidak ada bahasa manusia yang sulit untuk dipelajari dibandingkan dengan bahasa binatang. Sudah lama bangsa Indonesia tidak menyadari betapa pentingnya bahasa Arab, sehingga sampai saat ini belum berani menetapkan bahasa Arab sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Jika saja, bahasa Arab diujikan secara nasional sudah barang tentu siswa akan termotifasi untuk mempelajari dan menguasai bahasa tersebut.
Mendewakan teknologi dan pengetahuan barat telah membutakan bangsa dari pentingnya bahasa Arab yang telah dipilih Allah SWT sebagai bahasa firman-Nya. Bukankan seharusnya disadari bahwa bangsa yang kuat dan bermartabat apabila masih terjaga moral dan jati dirinya? Seharusnya difahami bahwa sumber jati diri dan moral yang takkan pernah punah adalah agama.
Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam yang kemudian secara otomatis selalu dibaca dan berusaha difahami oleh umat yang meyakini kebenaran kitab suci tersebut. Dalam kenyataanya, ada berapa orang yang dapat membaca al Qur’an dengan baik, ada berapa orang yang mampu membaca dengan baik dan memahaminya, dan selanjut berapa orang yang mengaplikasikan dalam kehidupannya. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan besar adalah; mungkinkan bahasa Arab dibumikan di Indonesia? Apa yang menjadi peluang untuk pembumian bahasa Arab di Indonesia? Dan apa saja yang menjadi tantangan pembumian bahasa Arab di Indonesia?
Jika ditilik dari perspektif psikologi bahasa mengenai language equisition, bahasa dapat dipelajari melalui dua jembatan; pertama, melalui tipe pembelajaran naturalistik, pembelajaran di lingkungan masyarakat. Kedua, melalui tipe pembelajaran formal, pembelajaran di dalam kelas. Peluang untuk membumikan bahasa Arab di Indonesia dapat melalui pembelajaran bahasa Arab secara Alami tentu sulit bagi bangsa yang memiliki bahasa ibu selain Arab, walaupun ada penduduk yang berasal dari Arab namun jumlah amat sedikit. Kemungkinan melalui pembelajaran formal sebagaimana di pondok-pondok pesantren, madrasah-madrasah dan PTAI.

PELUANG
Pemerolehan bahasa (language equisition) dapat melalui proses yang bersifat natural atau melalui proses yang bersifat rekayasa. Ellis dalam Abdul Chaer menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran bahasa yaitu naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Di Indonesia penduduk berkebangsaan Arab amatlah minim jika ada-pun mereka sudah berbahasa Indonesia, sehingga pembelajaran bahasa Arab naturalistik tidak mungkin dilakukan. Yang mungkin dilakukan adalah pembelajaran formal yaitu belajar bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan lain yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Arab.
Bagi negara seperti Indonesia peluang yang paling memungkinkan untuk membumikan bahasa Arab di Indonesia adalah melalui pendidikan, paling tidak ada tiga komponen besar untuk mengarahkan pendidikan sebagai media suksesi pembumian bahasa Arab, yaitu; adanya lembaga pendidikan yang memfasilitasi pendidikan bahasa Arab, sumber daya manusia yang profesional, dan kebijakan politik pemerintah.
  1. Pondok Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam
Dalam kancah pendidikan di Indonesia, pendidikan Islam merupaka fenomena tersendiri yang memiliki andil yang amat signifikan dalam rangka memelihara kelangsungan kehidupan bangsa yang bermartabat. Moral bangsa dapat lestarikan saat ini hanya melalui kelestarian dan terus mengembangkan pendidikan agama sebagai perimbangan era globalisasi yang dengan gencarnya tak dapat terbendung lagi, dunia terasa semakin kecil. Akses antar negara di seluruh dunia dengan mudah dan relatif sangat cepat melalui jaringan informasi dan transportasi yang kian canggih.
Islam di Indonesia akan terus lestari manakala pendidikan Isalm itu lestari. Sebagaimana dikatakan oleh Zainal Abidin bahwa Pendidikan Islam merupakan basis penyangga kontinuitas ajaran Islam sepanjang sejarah kemunculan agama Islam. Merupakan sesuatu yang menarik jika dicermati bahwa dari ribuan pondok pesantren dan madrasah di tambah lagi dengan perguruan tinggi Islam negeri dan swasta yang jumlahnya mencapai ratusan semuanya tidak lepas dengan kegiatan pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Arab yang merupakan bagian integral dalam Islam. Berdasarkan data Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Departemen Agama RI Tahun 2005 (dalam Kuryani), di Indonesia terdapat sejumlah 14.798 pondok pesantren.
  1. Cendikiawan Muslim
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi akademis yang secara umum mungkin perlu banyak pembenahan di berbagai aspek, namun tanpa menafikan bahwa sebenarnya di Indonesia dari zaman pra-kemerdekaan telah memilki banyak ulama yang secara keilmuan memiliki standar internasional di kalangan Islam, sebut saja seperti ulama yang tergabung dalam Wali Songo, Syeh Bantani, Hamka dan banyak lagi lainnya. Dari masa ke masa semakin banyak ulama (cendekiawan muslim) yang lahir bagaikan jamur di musim hujan. Di antara mereka adalah putra-putra terbaik bangsa yang telah memiliki kesempatan belajar di Timur Tengah. Sementara sebagian yang lain adalah lulusan domestik.
Bagi para cendikia muslim lulusan Timur Tengah sudah pasti menguasai bahasa Arab baik pasif maupun aktif. Hal tersebut jelas sangat berpitensi mengajarkan dan mensosialisasikan bahasa ibadah umat Islam tersebut. Apabila jika peran lulusan Timur Tengah itu dioptimalkan maka pembumian bahasa Arab di Indonesia tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Karena pengiriman mahasiswa untuk belajar di luar negeri khususnya Timur Tengah sudah berjalan sejak lama. Sebut saja lulusan MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) gagasan Menteri Agama Munawir Sazali (sekitar tahun 1990-an) telah dikirim ke Mesir dengan jumlah puluhan per-tahunnya, belum ditambah program-program lain melalui pondok pesantren dan Madrasah Aliyah.
  1. Tenaga Pengajar Penutur Asli Bahasa Arab (Native Speaker)
Suatu yang amat menggembirakan dalam dunia pembelajaran bahasa Arab karena saat ini, karena sudah banyak tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Islam (PTAI) yang didatangkan langsung dari negara-negara Arab, seperti Saudi, Mesir, Sudan, Maroko dan lainnya untuk menjadi tenaga pengajar dalam kajian Islam maupun kajian bahasa Arab. Para ulama tersebut tidak hanya di perguruan tinggi, akan tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan lain seperti LPIA (Lembaga Pendidikan Indonesia Arab), dan pondok-pondok pesantren.
Di perguruan tinggi sekelas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Malang dan Universitas Negeri Umum seperti UNJ (Universitas Negeri Jakarta), UNM (Universitas Negeri Malang) dan banyak lagi lainnya yang beberapa di antara tenaga pengajar (dosen) didatangkan langsung dari negara-negara di Timut Tengah. Dalam aktivitas pembelajaran mereka berkomunikasi dengan bahasa Arab.
  1. Kebijakan Politik Pemerintah
Satu-satunya negara yang berada di luar jazirah Arab yang dapat menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa nasional adalah negara Sudan, bahasa Arab telah menjadi alat komunikasi formal. Dari aspek sosial Indonesia memiliki penduduk yang mayoritas umat Islam, sebuah potensi yang amat besar untuk mendudukkan bahasa Arab sebagai bahasa asing yang wajib dipelajari dan dijadikan piranti dalam mengkaji Islam lebih comprehensif
dan mendetal.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana kita dapat membentuk tradisi keilmuan bahasa Arab yang dinamis, termasuk tradisi melakukan penelitian, dan upaya serius dari pemerintah (Depag maupun Diknas) untuk lebih peduli dan berkomitmen untuk memayungi kebijakan-kebijakan tentang pendidikan bahasa Arab di Indonesia yang lebih menguatkan posisi tawar bahasa Arab. Menarik ditegaskan, bahwa pemerintah Malaysia di bawah Perdana Menteri Abdullah Badawi menerbitkan kebijakan berupa pewajiban bagi semua lembaga pendidikan (Islam, Kristen, Budha, Konghucu, dsb.) untuk mengajarkan bahasa Arab pada tingkat dasar dan menengah, karena pemerintah menghendaki para lulusan lembaga pendidikannya itu mempunyai daya saing dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat global. Selain itu, penggunaan bahasa Arab pada bandara internasional Kuala Lumpur sebagai salah satu media informasi (di samping bahasa Inggris, Mandarin, dan Melayu), ternyata banyak mengundang mengundang minat wisatawan dan investori dari Timur Tengah, di samping membuka lapangan kerja bagi lulusan pendidikan bahasa Arab.

TANTANGAN
Menurut Abdul Wahab di antara tantangan prospek bahasa Arab dalam dunia pendidikan adalah; globalisasi, kolonialisasi barat, derasnya pendangkalan gelombang akidah, agenda neo-kolonialisasi globalisme, upaya penggantian huruf Arab dengan latin, dan disorientasi pendidikan bahasa Arab di lembaga pendidikan di Indonesia. adapun secara umum tantangan pembumian bahasa Arab di Indonesia adalah; Era globalisasi, perkembangan sain dan teknologi, dan rasa puas terhadap transliterasi dan penterjemahan.

1. Era Globalisasi
Globalisasi diberbagai aspek kehidupan menempatkan bahasa sebagai poros terdepan di lini-strategis di era global. Sektor ekonomi, teknologi dan budaya merupakan potensi yang amat strategis bagi sosialisi suatu bahasa. Apabila di sektor-sektor itu dapat diduduki oleh bahasa Arab maka tak pelak lagi bahasa Arab akan menjadi bomming di jagat raya ini. Namun apabila yang terjadi jika bahasa lain yang melambari sektor-sektor globalisasi maka yang terjadi adalah sebaliknya, bahasa Arab akan tertinggal pembumiannya di Indonesia maupun di seluruh belahan dunia.
Harus diakui bahwa globalisasi merupakan tantangan zaman di berbagai dimensi kehidupan termasuk juga kelestarian bahasa Arab sebagai bahasa Agama. Jika diruntutkan, globalisasi merupakan jembatan yang amat mapan bagi merambahnya bahasa Inggris ke seluruh penjuru dunia. Bahasa Inggris saat ini memiliki posisi yang amat menguntungkan, banyaknya ilmu pengetahuan barat yang ditulis dalam bahasa Inggris dan tuntunan teknologi yang berbahasa Inggris. Fakta yang ada seakan-akan mempersempit ruang bagi bahasa-bahasa asing lain untuk menjelajahi dunia.
Indonesia dalam hal ini tidak mau ketinggalan, hampir di berbagai sektor kehidupan di negara ini tidak lepas dengan bahasa asing tersebut. Dalam dunia ekonomi bagi yang memiliki kecakapan berbahasa Inggris maka akan mendapatkan kedudukan yang sangat menjanjikan, mereka mungkin akan menjadi menejer, bahkan mungkin direktur atau paling tidak konsultan. Di sebagian perusahaan bonafit bahkan menjadikan kecakapan berbahasa Inggris sebagai prasarat di samping kemampuan mengoperasikan komputer.
2. Perkembangan Sain dan Teknologi
Harus diakui bahwa sain dan teknologi di zaman sekarang ini merupakan tren zaman dengan segala produknya kian mutakhir. Dalam hal ini adalah bahasa yang digunakan dalam simbol perkembangan sain dan teknologi otomatis menjadi tren pula dan secara pasti menyingkirkan bahasa bahasa lain yang tidak dipergunakan dalam membingkai tren sain dan teknologi.
Secara historis dunia keilmuan Islam pernah mengalami kemajuan yang sangat pesat, yang disebut dengan masa keemasan Islam yang terjadi pada masa Daulah Bani Abbasiyah . Pada masa ini banyak lahir dan tumbuh para pemikir muslim dengan berbagai keilmuan penting yang ditemukannya dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada masa ini, ilmu-ilmu yang dikembangkan dan berkembang pada masa itu umumnya dibagi dalam dua bidang, yaitu ilmu naqli dan ilmu aqli. Ilmu naqli mencakup ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, dan hukum Islam. Ilmu akli di zaman ini terurai menjadi; falsafah, Ikhwanus Shafa, At Thib, Farmasi dan Kimia, Ilmu falak dan Nujum, Ilmu Riyadhiyat, Ilmu Tarikh, Ilmu Jughrafiah, dan Al Maushu’at . Selain itu, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu falak, ilmu geografi mulai berkembang, disusul kemudian dengan penulisan buku-buku sejarah yang bermanfaat sebagai pelestarian dunia keilmuan Islam dan para tokohnya.
Setelah mengalami kemajuan yang cukup pesat, untuk sekian kali dunia keilmuan Islam mengalami kemuduran, dengan kata lain, dunia Islam "mundur" dengan ketidak berdayaannya dan Barat "maju" dengan segala pemikirannya.
 . Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ketika pengetahuan Islam mengalami kejayaan bahasa Arab menjadi sangat tren sebagai simbol dari pengetahuan Islam, akan tetapi ketika fakta berubah dimana pengetahuan barat merajai dunia maka bahasa orang baratlah kemudian menjadi tren di permukaan bumi ini.

3. Rasa Puas Terhadap Hasil Transliterasi dan Terjemahan
Kian maraknya transliterasi dan terjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia menjadikan para ilmuan bahasa Arab lebih kreatif dalam bidang transliterasi dan penterjemahan. Di sisi lain dampak yang tak terelakkan adalah semakin malasnya masyarakat untuk mempelajari bahasa Arab bahkan dari membaca huruf Arab saja, karena transliterasi sudah tersedia, dan hampir setiap kitab-kitab kilmuan Islam sudah ada terjemahannya. Tentu akan muncul banyak anggapan bahwa belajar bahasa Arab tidak begitu penting karena dengan bahasa Indonesia saja sudah dapat membaca tulisan Arab bahkan mengerti terjemahan al Qur’an, al Hadits dan kitab-kitab lain yang berisiskan kajian tentang Islam.
Semakin banyaknya buku-buku hasil terjemahan alih bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, pada satu sisi memudahkan umat untuk mempelajari pengetahuan agama tanpa harus mengerti bahasa Arab terlebih dahulu. Akan tetapi pada aspek lain tentu untuk mempelajari bahasa Arab lambat laun dianggap tidak begitu penting karena dengan membaca terjemahan saja sudah dianggap cukup untuk mempelajari pengetahuan agama. Walaupun tampak dengan membaca terjemahan saja sudah cukup dalam memahami pengetahuan agama, sebenarnya ada satu kelemahan dalam dunia terjemahan yaitu ketika orang menterjemah cenderung subyektif sebagaimana dikatakan oleh H.G. de Maar bahwa salah satu petunjuk penterjemahan adalah bahwa penterjemah harus setia kepada teks aslinya, seorang penterjemah harus bebas dari subyektifitas apalagi ditumpangi oleh misi-misi tertentu.

SIMPULAN
1. Penduduk negara Indonesia yang moyoritas beragama Islam merupakan potensi yang amat besar dan mengakar yang memiliki prospek untuk membumikan bahasa Arab di Indonesia. Diperkuat lagi dengan lembaga-lembaga pendidikan yang kian hari kian diperhitungkan eksistensinya akan dapat mempercepat proses pembumian bahasa Arab jika saja diperkuat oleh kebijakan politik pemerintad dalam bidang pendidikan khususnya atau pada bidang-bidang yang lain.
2. Tantangan dalam pembumian bahasa Arab di Indonesia saat ini memang sangat berat, dimana masa sekarang adalam zaman globalisasi, teknologi dan kejayaan keilmuan barat. Bahasa Inggris merupakan lawan terkuat bagi pembumian bahasa Arab karena bahasa Inggris sudah menjadi identitas globalisasi, teknologi dan keilmuan barat. Kendatipun demikian, bukan berarti tidak ada harapan bagi bahasa Arab untuk menjadi bahasa asing yang paling banyak dituturkan, karena saat ini perkembangan pendidikan bahasa Arab kian menggembirakan. Banyak buku-buku yang berkaitan dengan metodologi pembelajaran bahasa Arab sudah diterbitkan, transformasi pendekatan metode dari qawaid wa tarjamah ke pendekatan comunikatif telah merubah pembelajaran bahasa Arab menjadi kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal, Tarbawiyah (Media Edukasi, Inovasi, dan Kreasi Pendidikan), STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Edisi Januari 2008, , Vol.5, No.1
Arsyad, Azhar, 2004. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Chaer, Abdul, 2003. PSIKOLINGUISTIK (Kajian Teoritik), Rineka Cipta, Jakarta
Ghazali, Adeng Muchtar, 2005. Pemikiran Islam Kontemporer (Suatu Refleksi Keagamaan yang Dialogis), Pustaka Setia, Bandung,
 Hidayat, D, Mnecairkan Kebekuan Komunikasi Dalam Bahasa Arab Lisan, El-Jadid (Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam), Vol. 1, No. 2, Januari 2004, Program Pasca Sarjana UIN Malang.
Khotijah, TAPIS (jurnal penelitian ilmiah), p3m (Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Vol.09, No.01, Juli 2009
Kuryani, TAPIS (jurnal penelitian ilmiah), p3m (Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Vol.08, No.02, Juli 2009
Madjid, Nurcholish, 1994. Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta
Misbah, Ma'ruf dkk, 1994. Sejarah Kebudayaan Islam, CV Wicaksana Semarang
Mustofa, A, 1997. Filasafat Islam, Pustaka Setia Bandung
Wahyuningsih, Noverita, 2004. MEMADU SAINS DAN AGAMA (Menuju Universitas Islam Masa Depan), Bayu Media Publishing, Malang,
 Widyamartaya, A, 2005. Seni Menterjemahkan, Knisius, Yogyakarta



Read More..
.